Demikian hal ini disampaikan oleh Faisal Kamal, CEO Karir Anak Indonesia mengutip pernyataan dari seorang professor dari Harvard University, Prof Lant Pritchett dalam acara “Sarasehan Pendidikan 4.0” yang merupakan acara pembuka untuk kegiatan BSTB Digital Fair 2020.

Acara ini sendiri digelar oleh SMP IPBS Tunas Bangsa kemarin hari Kamis, 23 Januari 2020. Bertempat di masjid dan halaman sekolah, event ini dihadiri oleh siswa, guru, orangtua dan para pemerhati pendidikan se-Banjarnegara. Setidaknya ada 348 pengunjung yang hadir.

Selanjutnya Faisal menambahkan, “Dalam PISA (The Programme of International Student Assesment) Indonesia menduduki angka 64 dari 70 negara di dunia dalam hal Reading Literacy. Sungguh kita sangat ketinggalan”

Hal ini diaminkan oleh narasumber lainnya. “Aspek literacy yang penting untuk  dikuasai di era informasi saat ini salah satunya adalah Digital Literacy,” imbuh Agus Sutanto, M.Pd selaku Kabid Sekmen Dindikpora Banjarnegara.         

Dhian Fatmasari, Kepala Sekolah SMP IPBS Tunas Bangsa menambahkan, “Benar sekali! Salah satu penyebab Indonesia ketinggalan kereta daripada negara-negara lainnya adalah minat baca guru dan siswa yang rendah. Disamping itu juga metode pembelajaran yang diterapkan terlalu monoton, anak didik hanya diajari menghafal bukan berfikir kritis, siswa lebih banyak diajarkan teori tetapi tidak dihubungkan langsung dengan kejadian di lapangan, serta system pendidikan yang terjebak kepada administrative dan rutinitas harian.”

“Padahal di sisi yang lain, dunia terus berubah. Apalagi dalam TI. Salah satu pendiri Intel, Gordon E. Moore menyatakan bahwa kecepatan microprocessor akan meningkat dua kali lipat setiap 18 bulan, dan bahkan lebih cepat. Karena itu seperti gadget yang kita beli hari ini tahun depan sudah ketinggalan zaman.”

“Sementara itu sebagian dari kita, para orangtua, gagap dan takut dengan perkembangan TI ini. Begitu mudahnya informasi kita dapatkan melalui internet. Beraneka macam konten menyerbu lewat media-media social. Dunia dalam segenggaman gadget. Banyak hal negatif terpapar. Tetapi tidak sedikit ilmu dan kemudahan kita dapatkan, bahkan penghasilan dan keberlimpahan.”  

“Karena itu lah kami menawarkan kepada para orangtua pemerhati pendidikan putra-putrinya, untuk menghadirkan SMP dengan Tiga Peminatan (Tahfidz, Bilingual, dan Digitalpreneur). Sebuah konsep integral mendidik anak dengan sejak dini Membangun Kompetensi pada 3 (tiga) hal: pertama, Membangun Pengetahuan (Knowledge) Anak. Melalui transfer ilmu yang menggunakan pendekatan daya ktiris siswa. Kedua, Membangun Keahlian (Skill) Anak. Kami percaya bahwa anak seusia SMP memiliki potensi yang luar biasa. Tugas kita sebagai orangtua dan pendidik adalah menemukan potensi tersebut dan mengasahnya dengan keahlian yang mereka minati. Di SMP Tunas Bangsa kami focus di skill digital karena saat ini dunia sedang berkembang kesini dan dunia digital adalah dunia anak-anak sekarang.  Ketiga, Membangun Adab (Attitude). Inilah yang akan membentengi anak-anak kita dari serbuan konten-konten negative. Alhamdulillah, kami memiliki Program Tahfidz (menghafal dan mengamalkan Quran) yang selama ini sudah berjalan dengan baik. Hal ini yang akan menjadikan anak didik kita bijak dalam memanfaatkan teknologi, bukan diperbudak oleh informasi.”

“Kami menjadikan 4C sebagai kompetensi anak abad 21 disini, yaitu Critical Thinking (kemampuan menyelesaikan masalah), Communication (kemampuan berkomunikasi antar pribadi), Collaboration (kemampuan bekerjasam dengan orang lain), dan Creativity (kemampuan menciptakan inovasi),” pungkas Dhian.

Dalam acara sarasehan tersebut juga dihadiri oleh Djarkasi selaku Wakil Ketua DPRD Banjarnegara. Beliau menyatakan siap untuk mendukung institusi yang serius memajukan Pendidikan Indonesia.

Setelah sarasehan selesai, selanjutnya pengunjung dipersilahkan untuk melihat beberapa stand. Dimulai dari stand kelas digital, pembelajaran digital, hingga media pembelajaran. Di kelas digital, pengunjung melihat langsung aktivitas siswa SMP Tunas Bangsa ketika mengerjakan project karya desain ilustrasi. Setelah itu, di stand pembelajaran digital mereka merasakan pembelajaran dan kuis dengan menggunakan media gadget. Di stand berikutnya, pengunjung bisa mencoba beragam media pembelajaran yang serba digital. Ada 4D Card, Google Lens, VR (Virtual Reality). Yang tidak kalah menarik adalah show stand karya-karya siswa.

Selain itu sebagian pengunjung dari beberapa sekolah mengikuti sesi Pelatihan Pembuatan PowerPoint sebagai media pembelajaran dan Pembuatan Evaluasi secara Digital. Seluruh rangkain acara selesai pada pukul 12.00 WIB. “Kami mengapresiasi penyelenggaraan program ini. Hanya Kepala Sekolah yang “gila” yang mampu berfikir “out of the box” keluar dari kebiasaan sehari-hari. Hari ini SMP Tunas Bangsa telah mengawali peminatan atau penjurusan anak sejak SMP dimana umumnya penjurusan baru dilakukan ketika usia SLTA. Salah satu jurusan yang diunggulkan adalah Kelas Digitalpreneur. Sebuah terobosan cerdas untuk memanfaatkan teknologi informasi (TI). Era yang kita alami saat ini,” pungkas Agus Sutanto, M.Pd mewakili Pemkab Banjarnegara.